Sekecil apapun yang bisa kita perbuat asalkan itu kebaikan mari kita usahakan, karena sesuatu yang besar itu berasal dari yang kecil.
فقد أخرج مسلم في صحيحه من حديث أبي ذر رضي الله عنه قال: قال لي النبي صلى الله عليه وسلم: لا تحقرن من المعروف شيئا ولو أن تلقى أخاك بوجه طلق.

PENDIDIKAN PADA PUASA RAMADHAN


PENDIDIKAN PADA PUASA RAMADHAN 

PERTAMA; puasa mengembangkan kecerdasan emosi. puasa mendidik manusia agar dapat melakukan pengendalian diri (self controll) dan pengaturan diri (self regulation).
-Kecerdasan emosi juga meliputi rasa empati, motivasi diri
(self motivation) dan kecakapan social.
Emosi memiliki kecenderungan yang bersifat negatif.
Menurut Sigmund Freud, hawa nafsu (id) manusia lebih mengedepankan prinsip keinginan semata untuk mencapai kesenangan. Karena manusia tidak dapat mengendalikan diri baik emosi maupun nafsu, tidak sedikit manusia yang sebelumnya terhormat kemudian terjatuh karena ketidaksanggupan mengendalikan diri. Orang yang seperti ini digambarkan dalam Al-Quran tergolong derajat yang paling rendah. ”Kemudian kami kembalikan manusia dalam keadaan yang serendah-rendahnya. (QS.At-Tin: 5).

KEDUA; puasa mendidik kejujuran. Tentunya kejujuran orang yang berpuasa terus dipelihara sepanjang kehidupan sehari-hari.

KETIGA: puasa mendorong dan mendidik manusia agar selalu belajar,   Alqur’an  surat Al-Alaq: 1-5
Ibarat patokan orang dagang, sedikit modalnya, tetapi untungnya besar. Mengerjakan sholat sunah pada bulan ramadhan dihitung sama dengan shalat fardhu. Orang yang memberikan makan berbuka untuk orang yang berpuasa, pahalanya sama dengan orang yang berpuasa.

KEEMPAT, puasa mendidik kesetaraan. Dalam ibadah puasa, Islam memandang manusia memiliki kesamaan derajat.
puasa adalah kefakiran total insan bertakwa yang bertujuan
mengetuk sensitivitas manusia dengan metode amaliah (praktis),

KELIMA, puasa mendidik sikap disiplin. (Waktu dan hukum)
merasa diawasi (muraqabah) oleh Allah. Kita sadar bahwa sedang disorot oleh “kamera” Ilahi yang sangat tajam,

KEENAM; puasa mendidik sabar, (hingga berbuka)
betapapun kita merasa haus mencekik tenggorokkan dan lapar melilit perut, ketika waktu magrib belum tiba, kita tidak diperbolehkan bersentuhan dengan makan dan minuman meskipun itu halal melainkan kita harus bersabar menunggu hingga waktu berbuka tiba.

Subscribe to receive free email updates: