Sekecil apapun yang bisa kita perbuat asalkan itu kebaikan mari kita usahakan, karena sesuatu yang besar itu berasal dari yang kecil.
فقد أخرج مسلم في صحيحه من حديث أبي ذر رضي الله عنه قال: قال لي النبي صلى الله عليه وسلم: لا تحقرن من المعروف شيئا ولو أن تلقى أخاك بوجه طلق.

Muhasabah

MUHASABAH
حاسبوا أنفسكم قبل أنتحاسبوا
الهاكم التكاثر حتي زرتم المقابر> التكاثر :1-2

Orang hidup di dunia ini gantian
Orang lahir itu tangangnnya pasti menggenggam
Orang yang meninggal itu pasti tangannya terbuka

Yang keluar dari lobang sembilan itu jelek sebagai ibarat bahwa semuanya menjijikan sebagai lambang yg sembilan itu ibarat gampang melaksanakan dosa dan lobang yang semakin lebar semakin banyak berbuat jelek

Muhasabah sama dengan intropeksi, yaitu seseorang bertanya kepada dirinya sendiri tentang perbuatan yang dia lakukan agar jiwa menjadi tenang, dan tentram.
Para sahabat Nabi membiasakan diri dalam mengakhiri malamnya dengan melakukan muhasabah.
Abu Bakar di akhir hidupnya sempat berpesan kepada putrinya Aisyah radhiyallahu anha. Abu Bakar berkata, “Sesungguhnya semenjak kita menangani urusan kaum Muslimin, tidak pernah makan (dari dinar dan dirham mereka). Yang kita makan adalah makanan yang keras dan sudah rusak.” (HR. Ahmad).
Bahkan sahabat utama Nabi itu tidak memperkenankan Aisyah mengambil apa yang dimiliki Abu Bakar. Semuanya diminta untuk diserahkan kepada Umar bin Khaththab. Langkah Abu Bakar ini jelas sangat berat. Tetapi tatkala muhasabah telah menjadi gaya hidup maka tidak ada yang lebih penting selain menyucikan diri demi ridha Allah, SWT.
Hal tersebut tidak lain karena hadits Nabi yang berbunyi; “Kedua kaki seorang hamba tidak akan bergeser pada hari kiamat sehingga ditanya tentang empat perkara: tentang umurnya, untuk apa dihabiskannya, tentang masa mudanya, digunakan untuk apa, tentang hartanya, dari mana diperoleh dan kemana dihabiskan, dan tentang ilmunya, apa yang dilakukan dengan ilmunya itu.” (HR. Tirmidzi).
Pantas jika Umar bin Khaththab sering mengingatkan umat Islam untuk selalu melakukan muhasabah diri. “Hasibu qobla an tuhasabu,” artinya hitunglah diri kalian sebelum datang hari perhitungan.
Menurut Hasan Al-Bashri muhasabah akan meringankan hisab di hari akhir. Sebab Allah tidak pernah melewatkan satu perbuatan pun melainkan telah tercatat di sisi-Nya.
  اللَّهُ وَنَسُوهُ وَاللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ
“Allah mengumpulkan (mencatat) amal perbuatan itu, padahal mereka telah melupakannya.” (QS. Al-Mujadilah: 6).
Dengan muhasabah hati kita terjaga dari kelalaian, mulut terhindar dari mengucapkan keburukan dan perbuatan kita akan terpelihara dari maksiat.

Subscribe to receive free email updates: